Batu Lapis di Lampung Selatan |
“Pergi ke Kalianda, Rien. Pantai-pantainya cukup bagus. Di sana juga banyak penginapan dan kamu bisa main ke Pulau Mengkudu sekaligus berkunjung ke Batu Lapis.”
Mas Yopie Pangkey admin @KelilingLampung merekomendasikan Kalianda untuk saya kunjungi di akhir bulan Agustus lalu. Saat nama Kalianda disebut, ingatan saya melayang pada acara Festival Krakatau 2015. Saat itu saya mengikuti Tur Krakatau bersama para undangan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. Kalianda menjadi titik keberangkatan kami menuju Gunung Anak Krakatau, tepatnya dari dermaga Grand Elty Krakatoa Resort.
Dalam acara Tur Krakatau itulah pertama kali saya ke Kalianda. Dari dalam bus yang saya tumpangi, saya tidak terlalu memperhatikan keadaan pantai-pantai yang dilewati. Hanya melihat sekilas saja, dan rasanya saya tidak melihat ada pantai yang bikin saya tertarik dan ingin mengunjunginya suatu waktu. Itu sebabnya ketika Mas Yopie menyebut Kalianda saya tidak begitu antusias. Tetapi, Pulau Mengkudu dan Batu Lapis itu yang membuat saya penasaran.
Pesona seperti apa yang dimiliki Batu Lapis dan Pulau Mengkudu?
Pulau Mengkudu tanpa pohon mengkudu |
Selasa tgl. 30 Agustus 2016 saya berangkat ke Kalianda bersama @KelilingLampung. Kalianda merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan yang terletak di kaki Gunung Rajabasa. Kota kecil nan bersahaja ini juga terletak di tepi pantai di sepanjang Teluk Lampung. Saya berangkat dari Bandar Lampung dengan menggunakan kendaraan admin #KelilingLampung. Waktu tempuh menuju Rajabasa diperkirakan sekitar 2,5 jam.
Memasuki wilayah Lampung Selatan, kami melewati Pelabuhan Panjang Pelindo. Saat mengamati keadaan sekitar kiri dan kanan jalan, saya merasa seolah pernah melintasi jalan tersebut. Seperti jalan menuju Pelabuhan Bakauheni. Hal itu dibenarkan oleh mas admin @KelilingLampung. Lampung Selatan memang merupakan sebuah kabupaten yang menjadi pintu gerbang Provinsi Lampung. Di kabupaten ini terdapat Pelabuhan Bakauheni, tempat bersandar kapal-kapal yang membawa penumpang/barang dari Pulau Jawa.
Kulineran di Kalianda, Pindang Patin dan Pindang Simba |
Memasuki jam makan siang, mobil kami menepi ke sebelah kanan jalan di sebuah rumah makan pindang pegagan. Pengunjung sedang ramai. Mas admin @KelilingLampung sudah beberapa kali makan pindang di tempat ini. Rasanya biasa tapi ikannya segar, begitu menurutnya. Biasanya kalau rumah makan ramai pengunjung, ikan dan bahan makanan yang digunakan yang segar karena stock bahan yang ada tidak disimpan lama-lama. Di rumah makan ini kami hanya menghabiskan Rp 82 ribu untuk pindang patin, pindang simba, 2 nasi dan minum 2 buah air kelapa bulat. Cukup murah?
Usai makan siang yang mengenyangkan itu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Rajabasa. Suasana pesisir mulai tampak. Desa-desa di pinggir laut dengan warga yang tengah beraktifitas, serta rumah-rumah yang berbaris rapi, memperlihatkan kehidupan yang cukup makmur. Plang-plang bertuliskan home stay dan paket wisata mulai terlihat di beberapa tempat. Pertanda kami sudah memasuki kawasan wisata.
Pantai Canti Lampung Selatan |
Pantai Canti dan Pantai Wartawan
Jalan yang kami lalui di Desa Waymuli, Kecamatan Rajabasa, makin lama makin ke pinggir laut. Mobil melintasi dua pantai ternama di Lampung Selatan yaitu Pantai Canti dan Pantai Wartawan. Karena pemandangan yang terlihat di kedua pantai itu cukup menarik, kami sempat berhenti beberapa saat untuk mengambil foto.
Pelabuhan Canti merupakan salah satu titik keberangkatan wisatawan yang hendak berangkat ke Gunung Anak Krakatau. Menurut cerita, jika berangkat dari Canti, maka jarak tempuh menuju gunung tidak terlalu panjang. Pantai Canti memiliki hamparan pasir putih. Di antara rimbunnya pepohonan yang melengkapi keindahan pantai ini, tedapat saung-saung yang asik untuk duduk-duduk santai atau rebahan, atau sekedar menatap pulau-pulau kecil di kejauhan.
Pantai Wartawan adalah pantai yang tak terlalu luas tetapi memiliki keunikan karena terdapat sumber air panas. Jika mampir ke pantai ini kita bisa memanfaatkan sumber air panasnya untuk merebus telur.
Pantai Wartawan di Lampung Selatan |
Kahai adalah nama tempat yang terletak di Kecamatan Rajabasa, tepatnya di Desa Batu Balak - Lampung Selatan yang berjarak tempuh kurang lebih 30 km dari pelabuhan Bakauheni. Kahai sendiri merupakan tempat yang subur dengan pemandangan alam yang sangat memukau, panorama laut yang indah dengan udara yang segar yang tentunya dapat memanjakan mata manusia.
Pukul 13.30 kami sampai di Krakatau Kahai Beach Hotel. Penginapan pinggir laut ini terletak di Jl. Raya Pesisir Batubalak No.99 Rajabasa, Lampung Selatan. Dari jalan raya, lokasinya ada di sebelah kanan jalan. Setelah melewati gerbang, ada turunan, kemudian belok kanan ada jalan agak naik. Tepat di atas bukit/tebing terdapat beberapa bangunan berupa restoran, hotel, campingground room (rumah kayu). Sedangkan di area pantai terdapat water boom yang bisa digunakan oleh tamu hotel maupun umum.
Water Boom di Pantai Kahai, Krakatau Kahai Beach Hotel |
Sebelum kemari, saya sempat melakukan pencarian beberapa hotel di Google, sampai akhirnya menemukan website www.krakataukahaibeach.com. Di antara kamar-kamar yang ditawarkan, saya tertarik dengan campingground room berupa bangunan rumah kayu di atas tebing yang menghadap ke laut. Harga per malam nya Rp 600.000 include sarapan untuk dua orang dan dua tiket masuk water boom. Ada disc 30% untuk weekdays.
Nah, karena harganya bersahabat dengan kantong, kamar inilah yang saya pesan. Harga bagus, view bagus, dan kamar kayunya pun unik, sempurna.
Rumah kayu dengan kamar mandi di luar |
Fasilitas di Rumah Kayu: double bed, AC, TV, slipper, 2 botol air mineral, WIFI |
Tarif kamar rumah kayu (campingground room) include sarapan untuk 2 orang |
Pulau Mengkudu
Perahu untuk menyeberang ke Pulau Mengkudu kami pesan melalui hotel Krakatau Kahai Beach. Per orang dikenakan biaya Rp 40.000 untuk pulang dan pergi dari/ke Pulau Mengkudu. Biasanya di akhir pekan pengunjung lebih banyak dan harga sewanya bisa lebih murah.
Dari hotel ada motor yang disediakan untuk berangkat menuju titik persewaan perahu yang akan menyeberang ke Pulau Mengkudu. Jaraknya tidak terlalu jauh tapi kalau jalan kaki lumayan. Sempat mau pakai mobil, tapi orang hotel bilang nanti repot parkirnya. Akhirnya kami naik motor. Security hotel yang mengikuti dari belakang berencana membawa motor itu kembali ke hotel. Tidak ditinggal selama kami pergi ke Pulau Mengkudu. Tiba di tempat persewaan perahu ada yang minta bayaran parkir sebesar Rp 10.000. Guide dari hotel yang mengikuti dari belakang terlihat tidak setuju dengan tagihan uang tersebut karena motor kami tidak parkir, melainkan cuma mengantar lalu pergi lagi.
Jukung (perahu) yang mengantar kami ke Pulau Mengkudu |
Sore itu kami menyeberang ke Pulau Mengkudu. Pulaunya cukup dekat, 20 menit saja kami sudah sampai. Ternyata perahu tidak bersandar di Pulau Mengkudu, melainkan di pulau pasir timbul yang menghubungkan antara daratan Sumatera dengan Pulau Mengkudu. Pasir timbul ini tidak akan terlihat ketika air laut pasang. Jadi sebenarnya Pulau Mengkudu bisa dicapai lewat daratan. Tapi tidak disarankan karena medannya sulit berupa bukit-bukit terjal. Karena itu menggunakan perahu lebih mudah dan aman.
Jalan ini adalah pulau pasir timbul yang menghubungkan Pulau Sumatera dengan Pulau Mengkudu |
Ada biaya tiket masuk pulau sebesar Rp 10.000 perorang. Hari itu hari Selasa, pengunjungnya sedikit, hanya ada 4 anak muda sedang bermain air di pinggir pantai. Saat kami tiba, mereka berjalan ke arah bukit, menuju Batu Lapis. Di akhir pekan, pengunjung pulau cukup ramai, bisa mencapai seratus orang per hari nya. Sedangkan di hari libur nasional, atau libur hari raya, pengunjung bisa mencapai 500-an orang. Demikian keterangan dari mas-mas yang menyewakan alat snorkling di warung dekat pantai.
Di sini memang ada warung, tapi cuma satu-satunya. Bagi yang ingin membeli air minum, mie instant, atau sekedar jajan gorengan, bisa ke warung tersebut. Nah, di warung itu pulalah terdapat persewaan alat-alat snorkeling.
Selamat datang di Pulau Mengkudu |
Satu-satunya warung |
Sorenya kami berenang karena tidak tahan dengan godaan airnya yang jernih dan kebiruan. Air lautnya terasa hangat, bikin saya betah berlama-lama berendam. Apalagi sambil menikmati pemandangan bukit-bukit di daratan pulau Sumatra yang terlihat begitu hijau, sangat memanjakan mata.
Banyak batu di permukaan pasirnya, kudu pakai sendal biar nyaman jalan kaki |
Jalan-jalan di pulau, eh ketemu biawak besar *Foto oleh Yopie Pangkey* |
Pulau Mengkudu memiliki luas sekitar dua hektare. Pulau mungil tak berpenghuni ini terletak di Desa Batu Balak, Kecamatan Rajabasa. Dinamakan Pulau Mengkudu karena pada tahun 1980-an di pulau ini banyak dijumpai pohon mengkudu. Namun kini pulau ditumbuhi pohon bakau. Saat berjalan-jalan di pulau ini, udara terasa sejuk karena banyak pohon yang menaungi. Mesti hati-hati selama berjalan di antara bakau sebab saya menemukan seekor biawak besar sedang melintas di antara daun-daun kering dan akar pohon. Ngeri juga kalau digigit he he.
Memotret sampai basah-basahan |
"Tegar seperti karang" - Foto oleh Yopie Pangkey |
Airnya jernih dan hangat, enak buat berendam dan berenang |
Sebelum hari terlalu petang, perahu datang menjemput. Kami pun pulang. Sekitar 10 menit setelah berangkat dari Pulau Mengkudu, perahu merapat ke pinggiran untuk singgah di Batu Lapis. Agak sedikit sulit perahu bersandar. Hempasan ombak cukup kuat, begitu juga angin sore. Karena itu perlu hati-hati. Apalagi batu-batunya licin. Perahu benar-benar harus ditarik dan dipegang dengan kuat agar kami bisa turun dengan selamat.
Batu karang berlapis-lapis yang berundak-undak itu berwarna kehitaman, tersusun rapi, dan terlihat sangat unik. Sesuatu yang langka dan belum pernah saya jumpai. Mirip bebatuan di Tanah Lot Bali. Lapisan-lapisan pada batunya sangat rapi. Seperti dipahat. Seperti ada yang menyusunnya. Padahal semua terbentuk secara alami. Bisa jadi karena faktor alam, terkena hempasan ombak, arus deras, terjangan gelombang, angin atau apa saja yang ada di sekitarnya. Ombak yang menghantam dan laut biru jernih di dekatnya membangun estetika tempat tersebut.
Bebatuan unik dan cantik *Foto oleh Yopie Pangkey* |
Di salah satu sisi, ada celah di antaran bebatuan itu sehingga membentuk semacam kolam. Saya berjalan dari satu undakan ke undakan lainnya. Di undakan paling atas, bapak pengemudi perahu duduk menghisap rokok. Matanya lekat memandang lautan. Seolah sedang berbincang mesra dengan alam. Sementara guide tinggal di perahu, menjauh dari batu agar tidak terkenan dorongan ombak yang menghempas bebatuan. Mas admin #KelilingLampung sibuk membuat foto dan video dari kamera Theta 360.
Hari kian petang, matahari sebentar lagi tenggelam. Saya mengambil gambar sebanyak mungkin selagi alam raya belum kehilangan cahaya. Setelah puas, baru duduk-duduk saja, menikmati pemandangan petang yang mulai menyajikan nuansa romantis. Langit mulai berhias selendang jingga.
Tak salah jika Batu Lapis menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat bertualang di Lampung Selatan. Tempat ini menghadirkan inspirasi, juga sebait puisi sunyi.
Cara mudah menuju Lampung Selatan
Pertama-tama, datanglah ke Lampung. Ada dua cara untuk menuju Lampung yaitu lewat darat dan udara. Jika dari Jakarta lewat udara, ada banyak maskapai rute Jakarta-Lampung yang melayani penerbangan sejak pagi sampai sore. Lalu, dari bandara Radin Intan Lampung, sewalah mobil untuk menjangkau daerah pesisir di Lampung Selatan.
Jika dari Jakarta lewat darat, sesampainya di Pelabuhan Bakauheni, sewalah kendaraan mobil ataupun ojeg motor dalam waktu kurang lebih 45 menit saja. Sementara jika datang dari arah Kota Kalianda, jaraknya hanya sekitar 30 Km dan dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun ojeg motor.
Waktu terbang dari Jakarta-Lampung tergolong singkat karena jaraknya memang dekat. Meski dekat, tidak berarti tiket pesawatnya murah. Jika memesan jauh hari sebelum keberangkatan, atau saat ada tiket promo, saya kadang bisa dapat harga ramah di kantong. Tapi jika memesan sudah dekat hari H, tak jarang mengoyak kantong. Buat saya yang sedang hobi banget ke Lampung, tiket-tiket pesawat ini jadi urusan yang bikin kantong tidak cuma koyak, tapi hancur. Maklumlah, pejalan dengan duit pas-pasan. Hehe.
Jelang senja di Batu Lapis |
Belanja Tiket Pesawat Murah ke Lampung
Belakangan saya memang kecanduan berwisata di Lampung. Provinsi satu ini seperti crème brulle yang manis dan lembut. Makin dijilat makin enak. Makin banyak objek wisata dijamah, makin penasaran bikin ingin datang lagi dan datang lagi.
Sesekali sih ada dapat sponsor, entah itu tiket pesawat atau pun penginapan. Tapi jarang. Seringnya bayar sendiri. Untuk menyiasati agar tetap bisa jalan-jalan tanpa bikin kantong koyak sana sini, saya kudu pinter-pinter mencari tiket pesawat murah. Ada cara untuk mendapatkannya, yakni melalui tiket2.com
Tiket2.com adalah website dengan fitur perbandingan penerbangan dan pemesanan tiket. Website ini telah membangun sebuah database maskapai, bandara dan rute di Indonesia dan Asia yang sangat besar sehingga harga yang akan didapat dengan memesan tiket pesawat di Tiket2.com sangatlah bersaing.
Belakangan, dari tiket2.com lah saya menemukan harga tiket pesawat termurah untuk setiap penerbangan, setiap hari. Dengan begini, urusan tiket untuk jalan-jalan ke Lampung atau ke daerah lainnya, bukan masalah lagi. Andai pun sanggup bayar tidak murah, tiket pesawat promo tetap jadi incaran. Kalau ada uang lebih sisa beli tiket, bisa digunakan untuk membayar keperluan lainnya seperti untuk bayar taksi, ojek, ataupun belanja oleh-oleh.
Mau ini? Cek www.tiket2.com |
Oh ya, saya juga ingin menginformasikan bahwa Tiket2 saat ini sedang mengadakan kontes tiket pesawat gratis, dimana setiap orang bisa memenangkan tiket gratis ke tujuan favorit di Indonesia dan luar negeri. Kalau mau ikutan, bisa cek di website Tiket2.com ya. Siapa tahu beruntung.
Kalau sudah dapat tiket pesawat murah, yuk terbang ke Lampung mengunjungi Pulau Mengkudu dan Batu Lapis di Lampung Selatan.
Yuk ke Pulau Mengkudu |
0 komentar:
Posting Komentar